|
NAKHON, (PR).-
Meski hingga Selasa (11/12) kontingen Indonesia
masih di posisi ke-6 klasemen perolehan medali pada SEA Games XXIV/2007,
Menegpora Adhyaksa Dault masih yakin Indonesia
bisa bangkit dan mewujudkan target masuk "Empat Besar", seperti yang
telah dicanangkan sebelumnya. Alasannya, masih banyak cabang olah raga yang
menjadi tumpuan medali emas, yang belum dipertandingkan.
"Saya menyayangkan adanya komentar yang mengatakan
atlet Indonesia tidak punya nyali dan daya juangnya rendah," ujar Adhyaksa
setelah menyaksikan keberhasilan Triyaningsih merebut medali emas atletik di
Stadion His Majesty The King`s 80th Birthday Anniversary, Nakhon Ratchasima,
Thailand, Selasa (11/12).
Wartawan "PR" Asep Sandhy Kurniawan, Irfan
Suryadireja, dan M. Gelora Sapta melaporkan, menurut Adhyaksa, kontingen
Indonesia saat ini masih berjuang dan SEA Games juga masih memperebutkan banyak
medali. "Pertandingan masih akan berlangsung empat hari dan masih banyak
cabang lain yang belum dipertandingkan, bagaimana bisa dikatakan kontingen Indonesia
makin terpuruk," katanya.
Menurut Adhyaksa, dari 25 medali emas yang dikumpulkan
Indonesia hingga Selasa (11/12), masih belum ditambah dari cabang andalan
Indonesia seperti pencak silat, canoeing, bulu tangkis, karate, dan taekwondo.
"Orang mengatakan, ada misorientasi dengan olah raga Indonesia.
Bahkan, mereka mengatakan, saya telah gagal dan seharusnya mundur. Mereka sudah
mengatakan Indonesia
terpuruk di SEA Games, padahal SEA Games masih berlangsung," ujarnya.
Dari komentar tersebut, kata Adhayaksa, ada kesan mereka
melecehkan perjuangan para atlet Indonesia
di SEA Games 2007. "Seharusnya, mereka memberikan semangat kepada atlet.
Jangan justru melemahkan mental atlet," kata Adhyaksa.
Alasan Adhyaksa sangat beralasan. Kontingen Indonesia
sudah merebut 25 medali emas. Selasa kemarin, atlet-atlet Indonesia
kembali merebut enam medali emas melalui cabang atletik (2), panahan (2), bina
raga (1), dan balap sepeda (1).
Hingga penutupan Sabtu (15/12) mendatang, masih ada
kira-kira 205 keping medali emas yang diperebutkan. Pada Rabu (12/12) hari ini,
akan diperebutkan 67 medali emas yaitu dari cabang selam (1), panahan (4),
biliar (2), tinju (7), canoeing (5), sepeda (3), berkuda (1), bola tangan (1),
judo (4), karate (8), sepak takraw (2), taekwondo (6), angkat besi (3), lawn
ball (6), pencak silat (12), dan perahu tradisional (2).
Indonesia
diharapkan bisa kembali menambah pundi-pundi medali emas dari cabang pencak
silat, panahan, canoeing, sepeda, angkat besi, dan perahu tradisional.
Revolusi pembinaan
Dekan Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan UPI
Bandung, Dr. H. Amung Ma`mun, M.Pd. mengatakan, sudah saatnya sekarang ini Indonesia
melakukan revolusi pembinaan di bidang olah raga. Tanpa melakukan itu, sampai
kapan pun Indonesia
akan sulit meraih prestasi tinggi dan bahkan akan semakin tertinggal jauh di
kawasan ASEAN.
"Sudah saatnya pemerintah turun tangan langsung. Pola
pembinaan atlet melalui pelatnas yang sekarang dilakukan, sudah dilakukan sejak
10 tahun dan tidak pernah berubah. Padahal, negara lain sudah meninggalkan pola
seperti di Indonesia," ujar Amung ketika ditemui di Stadion H.M. The
King`s 80th Birthday Anniversary, Nakhon Ratchasima Thailand, Selasa (11/12).
Ia menjelaskan, pola pembinaan ala Indonesia
seperti sekarang, dulu memang dinilai cukup berhasil, sehingga selalu meraih
prestasi bagus di SEA Games. Bahkan, negara-negara di ASEAN meniru pembinaan
seperti Indonesia.
Namun, ilmu tentang pola pembinaan terus berkembang, sedangkan negara-negara
ASEAN yang dulu menjiplak ke Indonesia,
sudah meninggalkan pola pembinaan seperti itu. Di lain pihak, Indonesia
masih berkutat dengan pola lama.
Ia mengatakan, revolusi pembinaan ini dilakukan dengan
memulai pembinaan di tingkat usia dini dengan melibatkan peran dari
tenaga-tenaga pendidik olah raga. Misalnya, di sekolah dasar, pendidikan
jasmani diajarkan secara serius. Selain itu, disediakan fasilitas olah raga.
Hal itu untuk membentuk fondasi atlet lebih kuat. "Ibaratnya mau membangun
gedung bertingkat. Fondasi untuk lima
lantai dengan dua puluh lantai pasti beda. Kalau untuk dua puluh lantai pasti
harus kokoh. Begitu juga dalam olah raga, jika motor ability-nya tidak kuat,
kita hanya akan bermimpi meraih prestasi di tingkat internasional,"
ujarnya.
Amung menegaskan, dengan revolusi pembinaan ini, Indonesia
baru akan memetik hasil pada 10 tahun mendatang. Hal itu karena penyiapan
bibit-bibit atlet ini dilakukan pada tingkat usia dini, bukan dimulai dari
belasan tahun. Sekarang ini sangat sulit mencari atlet yang memiliki dasar
fisik yang kuat, karena kondisi budaya kehidupan yang menyebabkan hal itu.
"Dulu untuk sekolah harus jalan kaki jauh. Dengan
sendirinya, kekuatan terbentuk dengan sendirinya. Sekarang, ke sekolah saja
naik motor. Kalau sudah begitu, bagaimana mau terbentuk fondasinya?," ujar
Amung.
Ia juga pesimistis pada
SEA Games 2011 Indonesia
bisa menjadi juara umum di kandang sendiri. Kecuali,
Indonesia memiliki
strategi tertentu yang bisa menolong ke posisi teratas. Namun, setelah itu dua
tahun kemudian, akan berat kembali meraih posisi teratas karena pola pembinaan
sekarang sudah tidak tepat. "Rencana adanya pembangunan pusat latihan dan
sarana olah raga di Bogor, harus
cepat direalisasikan. Tanpa itu, olah raga Indonesia
sulit maju," ujarnya.
Tak terkejar
Tuan rumah Thailand
semakin tidak terkejar. Hingga kemarin, Thailand mengumpulkan 97 medali emas,
diikuti Vietnam (46), Singapura (37), Malaysia (31), Filipina (29), dan
Indonesia (25).
Thailand
diperkirakan akan menyempurnakan gelar juara umum dengan medali emas sepak
bola, setelah tim mereka lolos ke final. Thailand
mengalahkan Singapura 3-0, sedangkan Myanmar
membungkam Vietnam
3-1 (0-0) melalui adu tendangan penalti.
Pada Selasa kemarin, atlet-atlet tuan rumahmengoleksi 12
medali emas tambahan, masing-masing direbut melalui atletik 4 medali emas,
biliar (2), boling (1), balap sepeda (2), anggar (1), pentaque (1), angkat besi
(2), bina raga (2), handball (1), judo (1), rugby (2).***
|
|
|